Rabu, 09 Juni 2021

RESUME MATERI PSIKOLOGI BERMAIN DARI SEMUA KELOMPOK

Oleh : Himatul Ali Yatusalamah | 1807016142


 

RESUME MATERI KELOMPOK 1

SEJARAH PSIKOLOGI BERMAIN

·         Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan  dengan  cara-cara menyenangkan, tidak diorientasikan pada hasil akhir, fleksibel, aktif, dan positif (Smith and Pellegrini.2008).

·         Plato merupakan orang pertama yang menyadari bahwa pentingnya bermain bagi anak karena adanya nilai praktis. Pendapat-pendapat lain muncul setelahnya yaitu Aristoteles yang berpendapat bahwa dari kegiatan bermain anak dapat memiliki cita-cita yang akan ditekuni saat dewasa nanti.

·         Pada awal 19 merupakan awal besar studi tentang perkembangan anak hingga muncul beberapa tokoh dalam teori klasik mengenai bermain.

1.      Teori klasik

a)      Teori Kelebihan Energi : Herbert Spencer mengajukan teori surplus energi yang menjelaskan bahwa kegiatan bermain terjadi karena adanya kelebihan energi pada anak.

b)      Teori Relaksasi/Rekreasi : Bermain adalah lawan dari bekerja dan merupakan cara yang ideal untuk memulihkan tenaga. Schaller dan Lazarus menyebutkan bahwa bermain mengisi kembali energi yang telah terpakai dalam bekerja.

c)      Teori Rekapitulasi : G. Stanley Hall mengatakan bahwa anak-anak mengulangi aktivitas leluhurnya, karena itu pengalaman-pengalaman nenek moyang akan tertampil di dalam kegiatan bermain anak. Teori inimemberi penjelasan mengenai tahapan kegiatan bermain yang mengikuti urutan seperti evolusi makhluk hidup.

d)     Teori Insting : Karl Groos, seorang filsuf yang meyakini bahwa bermain berfungsi untuk memperkuat instink yang dibutuhkan guna kelangsungan hidup di masa mendatang.

2.      Teori modern (setelah perang dunia I)

a)      Teori psikoanalisa : Sigmund Freud menyatakan bahwa bermain dapat mengeluarkan perasaan negatif pada anak seperti pengalaman traumatik dan harapan-harapan yang tidak terwujud dalam dunia nyata. Dalam hal ini, bermain dapat dijadikan sarana untuk menyalurkan emosi negatif seperti marah sehingga timbul perasaan lega.

b)      Teori kognitif

v  Jean Piage (1963), berpendapat bahwa anak menciptakan sendiri penengetahuan mereka tentang dunianya melalui interaksi mereka ketika bermain. Karena perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kognitif maka perkembangan kognitif anak juga mempengaruhi kegiatan bermainnya.

v  Lev Vygotsky (1967), Menurut Vigotsky bermain akan membantu perkembangan bahasa dan berpikir. Struktur mental terbentuk melalui penggunaan tanda-tanda (signs) serta alat-alat dan bermain dapat membaarntu pembentukan struktur tersebut. bermain juga membebaskan anak dari ikatan atau hambatan yang didapat dari lingkungannya.

v  Jerome Bruner, dari sudut pandang Bruner, dalam perkembangan dan pendidikan manusia aspek naratif memegang peran penting. Bermain sangat berhubungan erat dengan naratif dalam hal bagaimana seorang anak mempresentasikan pengetahuan dalam intensionalitas dan kesadarannya.

v  Sutton Smith (1967), Fungsi bermain menurut Smith adalah sebagai aktualisasi potensi otak karena menyimpan berbagai macam pilihan yang sudah ada di dalam otak

c)      Teori Singer : Jerome Singer (1973), memandang bermain khayal merupakan usaha anak untuk menggunakan kemampuan fisik dan mental guna mengatur atau mengorganisasi pengalaman-pengalamnya.

d)     Arrousal Modulation Theory : Anak-anak menggunakan bermain sebagai cara untuk menciptakan informasi dari dalam dirinya sendiri melalui bermain khayal.

·         Dengan mengenali karakteristik bermain anak, kita akan lebih peka dan lebih tanggap lagi menilai tentang kegiatan bermain yang sesuai dengan ciri-ciri bermain anak sehingga dapat membuat penilaian bermain terhadap anak yang valid, adil dan dapat mengukur kompetensi anak secara individual.

·         Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permainan Anak : Kesehatan, Perkembangan motorik, Intelegensi, Jenis kelamin, Lingkungan  , Status sosio-ekonomi, Jumlah waktu bebas, Alat permainan

·         manfaat dari bermain bagi aspek-aspek perkembangan usia dini, yaitu:

1.      Bermain dan perkembangan moral : Anak usia dini yang memiliki latar tidak bisa lepas dari kegiatan bermain, seharusnya dijadikan celah dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan. Misal dalam bermain diberikan tata cara atau aturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar.

2.      Bermain dan perkembangan motorik : Pada anak usia dini, aktivitas yang dikerjakan selalu diwarnai dengan gerak. Gerak dapat menyebabkan anak bermain dan bermain membuat anak menggerakkan anggota tubuhnya. Anak yang mendapatkan kesempatan untuk bermain, maka ia akan melatih kemampuan otot-otot yang menjadikan anak kuat dan bugar.

3.      Bermain dan perkembangan kognitif  : Dengan bermain anak akan lebih mudah menerima konsep-konsep tersebut daripada diajarkan seperti orang dewasa yang sedang belajar.

4.      Bermain dan perkembangan bahasa : Dalam setiap kesempatan bermain anak selalu berkomunikasi dengan lawan mainnya, baik berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Perkembangan bahasa dapat dikembangkan ketika anak mengutarakan keinginannya, mengeluarkan pendapat, serta memberi komentar kepada lawan mainnya.

5.      Bermain dan perkembangan sosial : Dari kegiatan bermain bersama temanteman, anak akan belajar memahami diri dan orang lain. Anak yang mulanya egosentris, setelah bermain dengan anak-anak lain bisa dimungkinkan ia akan mulai sosialis.

6.      Pemanfaatan bermain oleh guru : Guru dapat menggunakan bermain untuk melakukan pengamatan dan penilaian atau suatu evaluasi terhadap seorang anak dengan cara melihat mainan yang sering dipilih oleh anak.

RESUME MATERI KELOMPOK 2

ALAT-ALAT PERMAINAN

A.    PERMAINAN ELEKTRONIK

Alat permainan elektronik adalah permainan yang biasa dimainkan melalui media elektronik, seperti komputer, alat konsol dan smartphone.

1.      Teknik digital yang dapat mempengaruhi anak

-          Popular culture: merupakan hasil karya manusia yang menarik sebagian besar anak-anak

-          Media: merupakan material dan sumber-sumber yang digunakan dalam berkomunikasi

-          New technologies: merupakan inovasi teknologi yang dibuat untuk memudahkan proses digitalisasi

2.      Analysing imajination

a.       Imagination as Etcetera-Act, merupakan fungsi imajinasi dimana anak melihat hal-hal yang tidak terlihat dan perlu aturan lanjutan untuk membantu mengembangkan imajnasi tersebut

b.      Imagination as an Act of Generating Alternative, yaitu imajinasi yang terdiri dari membuat representasi alternatif dari objek, situasi dan tindakan tertentu

c.       Imajination as an Act of Dynamic Change, merupakan fungsi imajinasi tambahan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam dua fungsi imajinasi sebelumnya

3.      Kategori permainan elektronik

*      Permainan aksi: Cederung menampilkan banyak adegan kekerasan

*      Permainan peetualangan: Permainan yang biasanya memainkan peran sebagai petualang.

*      Permainan strategi: Secara umum melibatkan pergerakan taktis pasukan atau pemain.

*      Permainan edukatif: memiliki tujuan pembelajaran

*      Permainan olahraga: memaiinkan berbagai jenis olahraga

*      Permainan simulasi: secara umum, permainan ini meniru kegiatan kehidupan nyata untuk berbagai tujuan

*      Permainan puzzle: permainan merangkai gambar, memecahkan teka-teki dan kuis

4.      Dampak

 

 

 

 

Positif

Negatif

 

 

v   Dapat megenal hal-hal yang baru

v   Meningkatkan kemampuan bersosialisasi

v   Meningkatkan tingkat solidaritas

v   Jarang melakukan aktifitas fisik

v  Banyak game yang mengandung kekerasan

v  Selalu ingin meniru apa yang terjadi dalam game 

v  Menjadi lupa waktu

v   Penghilang rasa jenuh

v   Membuat orang semakin pintar

v   Menjadi lebih cekatan

v   membuat orang merasa senang

v   Menjadi kecanduan games

v   Menjadi malas

v   Kurang memperdulikan lingkungan

v   Selalu memiikirkan tentang game

v   Pola makan tidak teratur

 


 


B.     PERMAINAN EDUKATIF

Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan.

1.      Manfaat:


-          Melatih kemampuan motorik

-           Melatih konsentrasi

-           Mengembangkan konsep sebab akibat

-           Melatih bahasa dan Wawasan

-           Mengenalkan warna dan bentuk


2.      Ciri-ciri


-          Ditujukan pada anak Tk

-           Berfungsi untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak TK

-           Dapat digunakan dengan berbagai cara

-          Aman bagi anak

-          Dapat mendorong aktifitas dan kreatifitas

-           Bersifat kostruktif

-          Mengandung nilai pendidikan


3.      Jenis-jenis

a.       APE ciptaan Montessori: Dr. Maria Montessori menciptakan alat permainan edukatif yang memudahkan anak mengingat konsep-konsep yang akan dipelajari tanpa perlu bimbingan, sehingga memungkinkan anak untuk bekerja secara mandiri.

b.      APE untuk kemampuan berbahasa Peabody: Dikembangkan oleh Elizabeth Peabody. APE ini program pengetahmemberikan uan dasar yang mengacu pada aspek pengembangan bahasa.

c.       Balok Cruissenire: George Cruissenaire menciptakan balok Cruissenaire untuk mengembangkan kemampuan berhitung pada anak

d.      APE ciptaan Froebel: APE ini berupa balok bangunan. Alat permainan ini banyak digunakan sebagai salah satu jenis permainan untuk melatih motorik dan daya nalar.

e.       Boneka jari: Untuk membuat boneka jari ini, kain dapat dibentuk sesuai dengan figur cerita.

f.       Puzzle besar: Tujuan permainan ini untuk mengenalkan suatu bentuk, melatih daya pengamatan, dan daya konsentrasi serta melatih ketrampilan jari-jari anak

g.       Kotak alfabet: Berisi huruf-huruf alfabet untuk anak yang berumur 5 tahun yang sedang belajar membaca.

h.      Kartu lambang bilangan: Kartu ini berisikan angka dari 1-50, 1-100 dan sebagainya. Tujuannya agar anak mengenal lambang bilangan dan belajar menghitung.

i.        Kartu pasangan: Kartu ini dimainkan anak usia 4-6 tahun, yang mana setip kartu diberi gambar secara berpasangan.

j.        Puzzle jam: Sesuai untuk anak usia 5-6 tahun. Terbuat dari tripleks dan diberi gambar sebuah jam lengkap dengan jarum penunjuk.

C.     PENGARUH PERMAINAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

@  Aspek fisik

Bermain dapat mengembangkan aspek fisik atau motorik melalui permainan motorik kasar dan halus, kemampuan mengontrol anggota tubuh, belajar keseimbangan dan lain sebagainya.

@  Aspek kognitif

Bermain mampu meningkatkan perhatian dna konsentrasinya, mampu memunculkan kreatifitas anak, melati ingatan dan lainya.

@  Aspek sosial emosional

Dalam bermain, anak dapat belajar untuk hidup bekerjasama dalam kelompok,  menyesuaikan tingkah lakunya dengan orang lain, belajar mengusai diri dan egonya dan lain sebagainya.

D.     YANG HARUS DIPERHATIKAN ORANGTUA TERKAIT PENGGUNAAN PERMAINAN ELEKTRONIK PADA ANAK

Menurut Muhammad Nazir, cara-cara yang harus dilakukan orang tua yaitu :

1.      Pilih sesuai dengan usia anak

2.      Selektif dalam memilih permainan

3.      Temani anak dalam bermain

4.      Batasi waktu bermain

5.      Mengajak anak melakukan kegiatan positif

 

 

 

RESUME MATERI KELOMPOK 3

MAKE BELIVE PLAY

A.    DEFINISI MAKE BELIVE PLAY

Make Believe Play adalah kegiatan bermain di tahap praoperasional yang terjadi pada anak usia sekitar 2 – 7 tahun dengan ciri-ciri anak mampu melakukan kegiatan bermain pura-pura atau bermain khayal dan anak mulai mengenal simbol dari benda lain secara representatif. Kegiatan bermain pura-pura ini memperlihatkan imajinasi anak untuk menirukan atau memerankan perilaku orang dewasa atau orang lain dalam hal sikap, tutur kata berdasarkan status atau perannya dimasyarakat. Peniruan perilaku ini tidak hanya manusia yang nyata tetapi dapat juga tokoh-tokoh kartun atau ceritera legenda, dongeng , tokoh wayang dan sebagainya. Melalui bermain khayal anak akan berkembang kearah yang positif dari segi kecerdasan, kepedulian, nilai rasa, kreativitas, bahasa, komunikasi, sikap sosial dan sebagainya. Istilah lain yang dikenal mirip dengan konsep make believe play adalah bermain peran, bermain drama, bermain cerita, berimajinasi, dan lain-lain.

B.     MANFAAT MAKE BELIEVE PLAY

1.        Perkembangan aspek fisik

2.        Perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus

3.        Perkembangan aspek emosi

4.        Perkembangan aspek emosi dan kepribadian

5.        Perkembangan aspek kognisi

6.        Mengasah ketajaman penginderaan

7.        Mengasah ketrampilan olahraga

8.        Media bermain oleh guru

9.        Media terapi

10.    Media intervensi

 

C.     BENTUK PERMAINAN MAKE BELIEVE PLAY

a.       Permainan Kartu Bergambar

Pertama guru menyiapkan kartu bergambar yang ukurannya seukuran post cards sekitar 25x30 cm. Kartu bergambar dapat digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan tema. Contoh: ketika sedang  mempelajari tema binatang, guru dapat menggunakan kartu bergambar untuk menjadi media dalam mengenalkan macammacam binatang. Kemudian anak dipersilahkan untuk mendeskripsikan menirukan atau memperagakan hewan yang terdapat di dalam gambar tersebut. Sehingga anak lebih bersemangat ketika pembelajaran karena dilakukan melalui sebuah permainan. Anak mulai terbiasa dengan peraturan dalam bermain. Anak terbiaa untuk bertanya dan menungungkapkan pendaoatnya. Serta anak dapat belajar dengan cara menemukan sendiri melalui  kegiatan bermain yang menyenangkan.

Kartu bergambar merupakan alat bantu visual yang banyak digunakan pleh guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan kosakata anak. Salah satu media pembelajaran yang dapat memberikan manfaat kepada anak sebagai sebuah cara dalam memperkenalkan simbol, kata-kata dan meningkatkan penguasaan kosakata seperti mengenalkan benda maupun kata kerja yang ada di sekitar anak.

 

 

RESUME MATERI KELOMPOK 4

PROVIDING MATERIALS OUTDOORS

bermain adalah kegiatan pura-pura yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat demi kesenangan sehingga anak dapat memproyeksikan harapan-harapan maupun konflik pribadi. Dengan demikian kegiatan bermain ini memiliki tujuan yaitu agar anak dapat mengeluarkan semua perasaan negative, seperti pengalaman yang tidak menyenangkan/traumatic dan harapan-harapan yang tidak terwujud melalui bermain dalam realita sehingga timbul perasaan senang dan lega. Hal ini merupakan tujuan dasar seorang anak bermain, karena anak belum memiliki tujuan yang lebih mendasar lain selain untuk memperoleh kesenangan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susanna Miliar et al; Garvey; Rubin; Fein; dan Vendenberg (dalam Rahardjo, 2007) mengungkapkan adanya beberapa ciri kegiatan permainan, yaitu :

a.       Dilakukan berdasarkan motivasi instrinstik, maksudnya muncul atas keinginan pribadi serta untuk kepentingan sendiri.

b.      Perasaan dari orang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi positif.

c.       Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktifitas ke aktivitas lain.

d.      Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhirnya. e) Bebas memilih, ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak kecil

e.       Mempunyai kualitas pura-pura. Kegiatan bermain mempunyai kerangka tertentu yang memisahkan dari kehidupan nyata sehari-hari.

Terdapat dua alasan mengapa bermain outdoor penting untuk anak-anak usia diri. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus didapat dan dikembangkan. Kedua, dengan bermain outdoor anak usia dini dapat mengembangkan kecerdasan sosial dan emosionalnya, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Adapun beberapa jenis sarana bermain luar ruangan (outdoor) sebagai berikut :

1.      Permainan Petak umpet

2.      Permainan lompat tali

3.      Permainan kucing dan tikus

4.      Permainan menjadi ikan

5.      Permainan Elang dan Ayam

6.      Permainan Bola kasti

7.      Permainan Engklek

8.      Permainan Galah asin

9.      Permainan Pecah piring

A.    Jenis Permainan Indoor

1.      Tepuk Bersama

2.      Menyusun Puzzle

3.      Permainan Ular Tangga

4.      Permainan Congklak

5.      Permainan Gatheng

6.      Mencari Teman

7.      Memasangkan Benda

Bermain bukan hanya memiliki fungsi besar dalam kehidupan anak dikemudian hari, tetapi ternyata juga memiliki manfaat bagi mereka kelak. jika dilihat secara kata bermain di dalam pikiran bawah sadar manusia memiliki konotasi kata gembira, mengasyikkan, menyenangkan. Adapun kelebihan dan manfaat dari proses bermain yaitu: (Astuti, 2016) :

1.      Meningkatkan kreativitas anak Permainan mempunyai sumbangan penting dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini.

2.      Meningkatkan sportivitas dan kejujuran pada diri anak. Kegiatan bermain dapat mengasah sikap-sikap tersebut.

3.      Menumbuhkan rasa bersaing yang positif pada anak artinya melalui kegiatan bermain akan mengasah sikap bersaing yang positif pada diri anak.

4.      Meningkatkan rasa percaya diri anak

5.      Meningkatkan keterampilan problem solving dan kemampuan berfikir anak,

6.      Menimbulkan emosi positif dan meningkatkan rasa percaya diri, terutama ketika mereka memenangkan permainan.

7.      Proses yang baik untuk menanamkan program-program positif ke dalam pikiran bawah sadar anak.

Ada beberapa hal mengapa anak perlu bermain yaitu:

1.      Melalui bermainan anak mendapatkan pengalaman langsung guna memperoleh dasar kehidupan sosial.

2.      Anak perlu belajar memahami dan memainkan peran-peran di sekitarnya.

3.      Anak perlu melepaskan desakan emosi secara tepat.

4.      Anak perlu menyegarkan diri dari rutinitas hidup sehari-hari.

5.      Anak merasa punya harga diri karena merasa mampu menguasai tubuh, gerakan dan keterampilan sosial.

6.      Melalui bermain anak belajar tahu dan menyelesaikan masalah.

7.      Anak perlu berinteraksi untuk mengkreasikan pengetahuan mereka.

Anak punya energi lebih yang harus disalurkan. (Musfiroh, 2008)

 


 

RESUME MATERI KELOMPOK 5

ROLE OF THE ADULT

Sesuai dengan fungsi srta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, dapat disimpulkan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai berikut: 1. Sumber dan pemberi rasa kasih sayang  2. Pengasuh dan pemelihara  3. Tempat mencurahkan isi hati  4. Pengatur kehidupan dalam rumah tangga  5. Pembimbing hubungan pribadi  6. Pendidik dalam segi-segi emosional Disamping ibu, seorang ayah pun memegang peranan yang penting pula. Anak memandang ayahnya sebagai orang yang tertinggi gengsinya. Kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaannya sehari-hari sungguh besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, lebih-lebih anak yang telah agak besar.  Meskipun demikian, di beberapa keluarga masih dapat kita lihat kesalahan-kesalahan pendidikan yang diakibatkan oleh tindakan seorang ayah. Karena sibuknya bekerja mencari nafkah, si ayah tidak ada waktu untuk bergaul mendekati anak-anaknya. Ditinjau dari fungsi dan tugasnya sebagai ayah, dapat dikemukakan di sini bahwa peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih dominan adalah sebagai berikut:  1. Sumber kekuasaan di dalam keluarga  2. Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar  3. Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga  4. Pelindung terhadap ancaman dari luar  5. Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan  6. Pendidik dalam segi rasional.

Dalam bukunya, Yunanto (2005: 72) menyebutkan bahwa terdapat paling tidak terdapat 2 hal yang dapat dilakukan orang dewasa baik guru, orang tua, pengasuh, dan pendamping anak sebagai fasilitator belajar anak. 2 hal tersebut adalah:  Memantau dan mengetahui dengan baik setiap perkembangan yang terjadi pada anak sebagai upaya manipulasi stimulan yang sesuai dengan tumbuh kembangnya.  Memfasilitasi anak dalam proses belajar dengan cara memberi kesempatan anak melakukan aktivitas edukatif, menyediakan dan mengeksplorasi ragam sumber belajar menjadi alat dan kegiatan edukatif, dan menjadi partner anak dalam aktivitas edukatif.

Lingkungan yang memiliki role of the adult yang baik sangat dibutuhkan oleh anak-anak karena beberapa alasan berikut: 1. Perkembangan anak tergantung dari stimulus untuk sensori, peluang untuk memanipulasi dan belajar 2. Anak belajar bukan dari nasihat, tapi mengalami 3. Let nature be the teacher! 4. Adults is the manager of the environment 5. Mengatur ketersediaan materi 6. Natural material kaya akan materi utk belajar anak (warna, tekstur, bau, dll).

Dampak Negativ Anak Yang Tidak Memperoleh Role of the Adult 

1.      Kurang terampil bersosialisasi Tidak adanya Role of the Adult dalam kehidupan anak akan membuat anak kurang percaya diri, kurang mandiri, mudah menyerah, mudah cemas, dan takut menghadapi dunia luar. Selain itu, anak juga menjadi kurang terampil dalam bersosialisasi.

2.      Emosi kaku dan sulit dikontrol Tidak adanya Role of the Adult juga akan menyebabkan anak mempunyai emosi kaku dan sulit dikontrol. Selain itu, anak yang terlalu terbebani dengan aturan dan tugas juga akan membuat tenaga dan pikirannya terkuras, yang bukannya tidak mungkin akan berujung pada masalah kesehatan si anak itu sendiri.

Manfaat (Tujuan) Role of the Adult  

1.      Memilih sekolah sesuai keinginan anak

2.      Memilih sekolah yang mengikutsertakan orang tua

3.      Mendampingi proses belajar anak

4.      Memotivasi anak

5.      Memberikan kasih sayang dan perhatian

6.      Memenuhi kebutuhan sekolah

 

 

RESUME MATERI KELOMPOK 6

“Providing For Physical  Play & Movement Outdoors”

Melalui permainan fisik anak akan tumbuh menjadi sehat dan kuat untuk melakukan gerakan dasar. Adapun permainan fisik yang sering dilakukan anak-anak yaitu seperti permainan petak umpet, lompat tali, kucing dan tikus, grobak sodor dan masih banyak lagi. Dalam melakukan permainan maupun gerak diluar ruangan, anak dapat menumbuhkan keperayaan diri karena merasa diterima dan dihargai oleh temanteman sebayanya. Anak yang melakukan gerakan dan permainan fisik diluar ruangan dapat mengasah mental anak agar menjadi anak yang percaya diri dan peka terhadap keadaan yang ada di sekitar lingkungannya. Anak-anak menjadi tahu bahwa dilur ruangan banyak hal yang belum is ketahui. Anak-anak akan mengeksplor terhadap rangsangan yang dia dapat berupa informasi.

Macam – Macam Permainan Fisik dan Gerakan Diluar Ruangan 

1)      Permainan Petak umpet

2)      Permainan Lompat tali

3)      Permainan menjala ikan

4)      Permainan Elang dan Ayam

5)      Permainan Bola kasti

6)      Permainan Engklek

Manfaat dari proses bermain menurut Astuti (2016) yaitu :

1)      Meningkatkan kreativitas anak

2)      Meningkatkan sportivitas dan kejujuran pada diri anak.

3)      Menumbuhkan rasa bersaing yang positif pada anak

4)      Meningkatkan rasa percaya diri anak

5)      Meningkatkan keterampilan problem solving dan kemampuan berfikir anak

6)      Menimbulkan emosi positif dan meningkatkan rasa percaya diri terutama ketika mereka memenangkan permainan.

7)      Proses yang baik untuk menanamkan program-program positif kedalam pikiran bawah sadar anak.

 

 

RESUME MATERI KELOMPOK 7

“HUMAN SERVICE AND PSYCHOLOGY : PLAY THERAPY”

The Association for Play Therapy (dalam Indriyani, 2011) Terapi Bermain didefinisikan bahwa adanya penekanan pada fungsi dari permainan yang dilihat dari sistematik teori-teori yang ada untuk membantu masalah klien pada masalah psikososial, berkaitan dengan lingkungan dan perkembangan. Menurut Landreth (dalam Mashar, 2005) mengemukakan terapi bermain sebagai hubungan yang dinamis antara anak (atau orang dari segala usia) dan terapis yang terlatih dalam prosedur terapi bermain yang menyediakan bahan yang dipilih untuk bermain dan memfasilitasi pengembangan hubungan yang aman untuk anak sepenuhnya mengekspresikan dan mengeksplorasi diri (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilaku) melalui bermain, media alami anak berkomunikasi, untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Berdasarkan pengertian yang telah dijelaskan oleh beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa terapi bermain atau (play therapy) merupakan wadah yang terapis berikan kepada anak untuk bisa mengekspresikan dirinya dalam kondisi yang nyaman dengan menggunakan berbagai media permaian yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Fungsi play terapi:

1.      Perkembangan sensori

2.      Perkembangan intelektual

3.      Perkembangan sosialisasi dan moral

4.      Kreativitas

5.      Kesadaran diri

6.      Nilai terapeutik

Tahapan play therapy:

1.      Tahapan awal

2.      Tahapan pertengahan

3.      Tahapan akhir

Jenis-jenis play therapy:

Permainan (Games) yaitu jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini yang dimulai dari sifat tradisional maupun moderen seperti ular tangga, congklak, puzzle dan lainlain. Permainan (Games) yaitu jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini yang dimulai dari sifat tradisional maupun moderen seperti ular tangga, congklak, puzzle dan lainlain.

Sedangkan jika dilihat dari jenis play therapy yang ditinjau dari karakteristik sosial menurut Supartini (2004) yaitu :


ü  Solitary play

ü  Pararel play

ü  Associative play

ü  Cooperative play

ü  Onlooker play

ü  Therapeutic play


Dari berbagai jenis terapi bermain yang ada, ular tangga adalah permainan yang cocok untuk anak-anak dengan usia sekolah dasar yang termasuk jenis permainan (games) dan juga termasuk cooperative play yang sesuai dengan kriteria subjek yaitu anak usia sekolah yang dapat dimainkan secara berkelompok dan menggunakan aturan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa play therapy menjadi salah satu jawaban konselor untuk membantu anak usia dini mengentaskan masalahnya. Penelitian yang dilakukan oleh Mashar (2011) menyimpulkan bahwa secara individual, pemberian play therapy “Aku Anak Ceria” berpengaruh terhadap peningkatan emosi positif anak usia dini. Hal tersebut ditandai dengan adanya peningkatan skor emosi positif yang signifikan pada subjek kelompok eksperimen sebelum dan sesudah pemberian play therapy “Aku Anak Ceria” dilakukan.

 

RESUME MATERI KELOMPOK 8

“PENGETAHUAN TENTANG BERBAGAI HAL TERKAIT DENGAN BERMAIN PADA KEHIDUPAN ANAK”

Hurlock (1993) Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menimbulkan kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.

Bermain bagi perkembangan anak


•         Perkembangan fisik

•         Penyaluran energi emosional

•         Dorongan berkomunikasi

•         Penyaluran kebutuhan & keinginan

•         Sumber belajar

•         Merangsang kreativitas

•         Wawasan diri

•         Standar moral

•         Perkembangan pribadi


Tahap-tahap perkembangan bermain


1.      Tahap eksplorasi

2.      Tahap permainan

3.      Tahap bermain

4.      Tahap melamun


Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak


1.      Kesehatan

2.      Jenis kelamin

3.      Perkembangan motorik

4.      Lingkunfan

5.      Intelegensi

6.      Status sosial ekonomi

7.      Jumlah waktu bebas


Karakteristik bermain


1.      Simbolik

2.      Bermakna

3.      Aktif

4.      Menyenangkan

5.      Motivasional

6.      Beraturan

7.      Berepisode


 

RESUME MATERI KELOMPOK 9

HAK ANAK UNTUK BERMAIN

Hak Anak Untuk Bermain Terkandung Dalam Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 Yang Dinyatakan Dalam Pasal 11 Sebagai Berikut:

“Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri”

●       Menurut Hurlock, bermain dianggap sangat penting untuk perkembangan fisik dan psikologis sehingga semua anak dapat diberi waktu dan kesempatan untuk bermain dan juga didorong bermain tanpa memperdulikan sistem sosial ekonomi keluarga mereka. Selama bermain anak akan mengembangkan berbagai ketrampilan sosial sehingga memungkinkan untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak. Hurlock menjelaskan lebih jauh tentang pola bermain anak yang diklasifikasikan ke dalam kegiatan bermain pada masa awal anak-anak dan kegiatan bermain pada masa akhir anak-anak.

BATASAN DALAM BERMAIN

•      James Sully dalam Tedjasaputra (2001) menyatakan bahwa tertawa adalah tanda dari kegiatan bermain dan tertawa ada di dalam aktivitas sosial yang dilakukan bersama sekelompok teman, yang penting dan perlu ada di dalam kegiatan bermain adalah rasa senang yang ditandai oleh tertawa.

•      Soemitro (1991)menyatakan bahwa bermain adalah belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Melalui bermain anak akan berusaha beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungan tertentu dalam hal bentuk, berat, isi, sifat, jarak, waktu, bahasa, dan sebagainya.

•      Hurlock (1978:320) menyatakan bahwa bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.

•      Hurlock membedakan bermain menjadi dua yaitu bermain aktif dan pasif, bermain aktif apabila kesenangan diperoleh melalui aktivitas individu atau berperan aktif dalam kegiatan bermain tersebut. Sedang bermain pasif (hiburan) kesenangan diperoleh melalui penglihatan atau pendengaran dari aktivitas orang lain, misal menonton teman-teman bermain, mendengarkan aKtivitas teman bermain dan sebagainya.

Senada dengan pendapat para ahli tersebut, Montolulu,dkk (2007) menyebutkan karakteristik bermain adalah sebagai berikut:

•      Bermain relatif bebas dari aturan-aturan, kecuali anak-anak membuat aturan mereka sendiri.

•      Bermain dilakukan seakan-akan dalam kehidupan/kegiatan yang nyata (bermain drama, peran).

•      Bermain lebih menitikberatkan pada proses dari pada hasil akhir atau produknya.

•      Bermain memerlukan interaksi, komunikasi, dan keterlibatan anak- anak secara aktif dari kegiatan tersebut.

MANFAAT BERMAIN PADA PERKEMBANGAN ANAK

Menurut Tedjasaputra (2001: 38-49) menyatakan bahwa bermain mempunyai manfaat dalam perkembangan anak yang meliputi beberapa aspek yang ada dalam diri anak yaitu :


●       Perkembangan aspek fisik      

●       Perkembangan aspek motorik kasar dan halus

●       Perkembangan aspek sosial

●       Perkembangan aspek emosi atau kepribadian

●       Perkembangan aspek kognisi

●       Mengasah Komunikasi Bahasa


Mengembangkan Keterampilan Olahraga dan Menari

Bermain bermanfaat untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, kesehatan serta kebugaran tubuh anak. Pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak akan berkembang baik karena didukung oleh kemampuan sistem gerak yang ada berfungsi baik, seperti sistem otot, sistem syaraf, sistem peredaran darah dan sistem pernafasan, sebab aktivitas bermain akan melatih kemampuan tubuh untuk bergerak, baik gerak dasar, kemampuan unsur-unsur fisik (kekuatan, kecepatan, kelincahan, ketepatan ,koordinasi, kelentukan, daya tahan, keseimbangan,dsb.), maupun keterampilan geraknya. Kemampuan gerak dasar yang dimiliki anak baik serta didukung oleh kemampuan unsur-unsur fisik baik, maka dapat diduga bahwa keterampilan berolahraga dalam berbagai cabang olahraga akan semakin baik Keterampilan menari membutuhkah kesiapan tubuh untuk bergerak lentuk,luwes, kuat, cepat, bergerak dalam waktu relatif lama diperlukan kondisi fisik serta kemampuan gerak yang baik. Semua unsur gerak yang ada dalam keterampilan menari tersebut terdapat di dalam tubuh yang sehat, bugar, dan terampil, hal ini dapat diperoleh melalui aktivitas bermain. Kemampuan untuk mengoordinasikan gerak melalui aktivitas bermain juga dapat terwujud. Selain itu kemampuan anak menyelaraskan antara keterampilan gerak dan musik atau irama juga dapat tercukupi melalui aktivitas bermain dalam bentuk gerak dan lagu atau irama tertentu.

 

RESUME MATERI KELOMPOK 10

BATASAN BERMAIN PADA ANAK

Aktivitas bermain harus memenuhi beberapa hal yang nantinya digunakan sebagai pondasi (Batasan), yakni sebagai berikut :

1.      Efek  gembira  /  kesenangan

2.      Spontan,  sukarela,  motivasi intrinsic

3.      Fokus  pada  makna  dan bukan  hasil  akhir

4.      Ada  aturan  yang  sifatnya insidentil  dan  diciptakan   oleh  pemain

Konsep Bermain

Susanto mengem ukak an bahwa bermain dap at membentuk sikap mental dan n ilainilai kepribad ian anak diantar anya :

a)      Dengan bermain itu anak belajar menyadari keteraturan, peraturandan berlatih menjalankan komitmentyang dibangun dalam permainan tersebut

b)      Anak belajar menyelesaikan masalah dalam kesulitan terendah sampai yang tertinggi

c)      Anak berlatih sabar menunggu giliran setelah temannya menyelesaikan permainnanya.

d)     Anak berlatih bersaing dan membentuk motivasi dan harapan hari esok aka nada peluang memenangkan permainan.

e)      Anak-anak sejak dini belajar menghadapi resiko kekalahan yang dihadapi dari permainan.

Ada tiga teori bermain

1.      Teori psikoanalisis Sigmun Freud dan erik erikson

2.      Teori perkembangan kognitif yang menguji kegiatan bermain dalam kaitannya dengan perkembangan intelektual

3.      Teori dari vigotsky yang menekankan pada pemusatan hubungan social sebagai hal yang penting yang mempengaruhi kognitif


 

RESUME MATERI KELOMPOK 11

TEORI BERMAIN KLASIK & MODERN

Teori Klasik Bermain Menurut Ahli:

Plato

Plato merupakan orang pertama yang menyadari bahwa bermain penting bagi anak karena adanya nilai praktis.

Aristoteles

Aristoteles berpendapat bahwa dari kegiatan bermain anak dapat memiliki cita-cita yang akan ditekuni di saat dewasa nanti.

Frobel

Frobel berfokus pada pendekatan bermain bebas. Frober percaya bahwa anak membutuhkan pengalaman nyata dan aktif secara fisik terkait bermain dan belajar

Teori klasik mengenai bermain dikelompokkan menjadi dua yaitu Surplus Energy dan Teori Rekreasi serta Teori Rekapitulasi dan Teori Praktis

·         Teori Energi Berlebih (Teori Surplus Energy)

Schiller dan Spencer mengajukan teori surplus energi yang menjelaskan bahwa kegiatan bermain terjadi karena adanya kelebihan energi pada anak.

·         Teori Rekreasi

Teori rekreasi menjelaskan bahwa bermain adalah kegiatan untuk memulihkan energi yang sudah terkuras saat bekerja.

·         TeoriRekapitulasi (G. Stanley Hall)

Bermain dianggap sebagai perkembangan anak untuk mengulangi pengalamanpengalaman nenek moyang sehingga anak menjadi terampil. Teori ini berpandangan bahwa bermain mengaktifkan tahap-tahap perkembangan manusia. Teori ini menggambarkan bahwa anak dalam kehidupannya melalui berbagai tahap perkembangan. Setiap anak memiliki perkembagan yang berbeda-beda dan perkembangan anak dapat dioptimalkan melalui bermain.

·         TeoriPraktis

Teori praktis kemudian diajukan oleh Karl Groos yang meyakini bahwa bermain dapat memperkuat instink yang dibutuhkan untuk hidup di masa depan. Dalam hal ini, bermain dapat diartikan sebagai sarana latihan dan mengembangkan keterampilan anak.

 

Teori Modern Bermain

Perbedaan utama dari teori modern dan klasik yaitu teori modern memberi tekanan pada konsekuensi bermain bagi anak. Teori modern mengkaji tentang bermain tidak hanya menjelaskan mengapa muncul perilaku bermain namun disertai dengan berusaha menjelaskan manfaat bermain bagi perkembangan anak.

Teori Modern menurut beberapa ahli:

·         Teori Psikoanlisa oleh Sigmund Freud

Freud melihat bermain dari kacamata psikoanalisa, yang kemudian teori ini dinamakan Teori Bermain Psikoanalisa. Bermain bagi anak merupakan suatu mekanisme media atau sarana untuk belajar mengatasi peristiwa traumatic dan frustasi yang dialami sebelumnya. Anak dapat menyalurkan semua ekspresinya yang terpendam dengan semaksimal mungkin tanpa merasa tertekan. Dengan demikian Freud melihat bahwa bermain sebagai sarana melepaskan kenangan dan perasaan yang menyakitkan. Hal ini berarti anak bermain karena butuh melepaskan desakan emosi secara tepat.

·         Teori Kognitif oleh:

ü  Jean Piaget

Teori ini menjelaskan bahwa pengetahuan anak dapat dibangun dan dikembangkan dengan bermain. Bermain merupakan sarana untuk belajar berpikir mengungkapkan ide-ide (kreatifitas/daya cipta) atau berimajinasi.  Menurut Piaget perkembangan kognitif seseorang dibagi menjadi 4 dalam kaitannya dengan tahapan kegiatan bermain : Sensori motor (0-2 tahun), Praoperasional (2-7 tahun), Operasional konkret (7-11 tahun), Operasional normal (11-dewasa)

ü  Lev Vygostky

Menurut Vygostky, perkembangan anak bukan hanya dipengaruhi oleh kegiatan anak memainkan mainan, akan tetapi juga dipengaruhi oleh hubungan anak dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih matang. Namun demikian beliau masih berkeyakinan bahwa bermain mempunyai peran penting terhadap perkembangan kognitif anak. Pada saat bermain anak juga akan berinteraksi dengan sesamanya. Dalam teori kognitif  Vygostky beliau menyebutkan bahwa pengetahuan anak dipengaruhi oleh hubungan sosial.

ü  Jerome Bruner

Dalam teori ini Bruner menekankan pada fungsi bermain yaitu sebagai upaya atau sarana mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas. Bermain sangat berhubungan dengan naratif yaitu bagaimana anak mempresentasikan pengetahuan dan intensional dan kesadarannya. Semakin menarik bentuk dan alat permainannya, maka kognitif dan kreatifitas anak akan semakin berkembang dan maksimal

 

ü  Sutton Smith

Dalam teori ini mengemukakan bahwa transformasi simbolik yang muncul dalam kegiatan bermain khayal, memudahkan transformasi simbolik kognisi ke anak. Sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas mental anak, dengan demikian anak bisa menggunakan ide-idenya dengan cara yang baru dan menghasilkan ide-ide baru.

 

RESUME MATERI KELOMPOK 12

MANFAAT BERMAIN BAGI PERKEMBANGAN ANAK

Jean Piaget (1951) menyatakan, bermain merupakan suat kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang yang menimbulkan rasa bahagia atau kesenangan. Sedangkan ketika bermain dilakukan berulang kali, berarti manfaat dari bermain adalah menstimulasi aspek perkembangan yang terkait dengan tujuan alat bermain tersebut.  Menurut Diana (2010) Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Bermain yang dilakukan dengan rasa senang akan menghasilkan proses belajar pada anak. Anak-anak yg belajar melalui permainan akan membantu anak-anak berkembang secara optimal.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Psikologis Anak

Bermain adalah aktivitas yang dipilih anak tanpa mempedulikan hasil seperti hadiah atau pujian. Sebagaimana dalam pandangan Frued bahwa bermain adalah media untuk melepas emosi, bermain juga memiliki tujuan untuk bersenang-senang sehingga orang yang memainkannya akan merasa bahagia

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Imajinasi Anak

@  BERMAIN PERAN: Mendorong tumbuh kembang anak karena saat berpura-pura memainkan peran orang lain, anak akan belajar menghadapi masalah, menyampaikan maksud dan keinginan. (Rachel K. Tan, ahli psikologi klinis)

@  BERMAIN LEGO: Permainan lego bisa dibuat menjadi berbagai bentuk seperti pesawat, rumah, mobil, burung dan lain sebagainya. Proses membuat bentuk itulah yang akan merangsang daya imajinasi anak.

@  BERMAIN KESENIAN: Bermain kesenian dengan media seperti kertas, pensil, pensil warna, alat gambar dan lainnya akan merangsang otak kanannya dalam berkreativitas dengan menggambar dan mewarnai. Dengan begitu akan membantu melatih imajinasi anak.

@  BERMAIN EKSPERIMEN: Seperti membuat jaring dari kayu dan jaring-jaring bekas atau plastik untuk menangkap ikan, perahu dari kertas akan melatih kemampuan anak dalam berimajinasi menggunakan benda-benda sekitar menjadi hal yang lebih bermanfaat.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Sosial Anak

1.      Permainan tradisional banyak bermanfaat bagi perkembangan sosial anak terutama permainan-permainan yang dilakukan secara berkelompok. Ex. Gobak sodor, petak umpet, dll

2.      Interaksi yang  terjadi antara teman bermain akan melatih kerjasama, ketelitian dan penyusunan strategi

3.      Selain bermanfaat bagi perkembangan sosial, permainan berkelompok juga dapat mengembangkan empati dan mengurangi sikap egosentrisme.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Emosi Anak     

Ekspresi anak dalam bermain ketika anak menjalankan perannya dalam bermain. Anak memunculkan emosi positif dan negatif saat bermain dan mengekspresikan sesuai dengan emosi yang dirasakan. Pemahaman emosi anak ini mampu mencerdaskan emosi anak. J. Singer (1973 dalam Russ 2004),  menyatakan bahwa bermain sangat penting bagi anak, yaitu untuk membantu anak mengatur pengalaman mereka termasuk pengalaman emosi anak. Russ (2004) menyampaikan bahwa anak-anak yang mampu mengekspresikan emosi dan memiliki kualitas fantasi baik dalam bermain akan lebih mampu memahami emosi pada diri sendiri dan orang lain dari pada anak-anak yang kurang menonjolkan afeksi dan fantasi dalam bermain mereka.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Kognisi Anak

Sutton-smith (dalam Russ 2004) menekankan peran bermain dalam pengembangan fleksibilitas dalam pemecahan masalah. Bermain memberi kesempatan untuk mengeksplorasi kombinasi gagasan baru. Fisher (1992) melakukan meta-analisis terhadap 46 penelitian di area bermain dan perkembangan anak sampai tahun 1987. Dia menyelidiki dampak permainan terhadap kognitif , efektif-sosial, dan proses linguistik. Dia menyimpulkan bahwa bermain memang berhasil dalam meningkatkan perkembangan anak. Ukuran efek terkuat adalah pada kemampuan kognitif yang penting dalam berpikir kreatif.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Motorik Anak

Ø  Motorik halus

adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Contohnya seperti menggunting, menggaris, menyusun balok, menyusun puszzle dan lain-lain.

Ø  Motorik kasar

Adalah gerakan yang melibatkan banyak otot (otot besar). Contohnya duduk, menendang, berlari, naik turun tangga, dan lain-lain.

Manfaat Bermain Bagi Perkembangan Bahasa Anak

Menurut Nurbiana Dhieni (2015) bahasa adalah sistem simbol untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dan perkembangan bahasa merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki anak sejak dini karena saling berkaitan dengan perkembangan kognitif, sosial dan emosionalnya. Saat anak-anak bermain, mereka akan saling berkomunikasi dengan rekan bermainnya. Selama berkomunikasi itulah secara tidak langsung anak menambah daftar perbendaharaan katanya. Dari situlah bahasa anak mulai berkembang sedikit demi sedikit.

 


 

RESUME MATERI KELOMPOK 13

JENIS-JENIS KLEGIATAN BERMAIN

--menurut Hurlock (1978)

1.      bermain kreatif


Ø  Kreasi terhadap objek (object creation)

Ø  Cerita bersambung

Ø  (Continuing Story)

Ø  Permainan drama kreatif (Creative Dramatic

Ø  Play)

Ø   Gerakan kreatif (Creative Movement)

Ø  Pertanyaan Kreatif

Ø  Creative Questioning)


2.      Bermain aktif


a)      Tactile Play

b)      Functional Play

c)      Constructive Play

d)     Creative Play

e)      Symbolic /Dramatic Play

f)       Play Games


4.      Bermain pasif


a.       Membaca

b.      Membaca komik

c.       Menonton film

d.      Mendengarkan radio atau  musik


 

Kegiatan Bermain Pada Anak Berkebutuhan Khusus

1)      Bermain pada anak berkebutuhan khusus

2)      Bermain pada ASD

Kegiatan permainan untuk anak berkebutuhan khusus: bermain peran, sensori/inderawi, sebab akibat

Kegiatan Bermain Pada Anak yang Mengalami Terminal Illness/ yang Dirawat Di Rumah sakit


a.      anak tidak banyak menggunakan energi

b.      relatif dan terhindar dari infeksi silang

c.       sesuai dengan kelompok usia

d.      tidak bertentangan dengan terapi atau pengobatan

e.       perlu partisipasi atau keluarga

f.       semua alat permainan dapat dicuci


 

 


 

RESUME MATERI KELOMPOK 14

TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN

Perkembangan bermain dalam beberapa buku yang menjelaskan teori-teori tentang bermain masih belum menjelaskan makana yang jelas mengenai perkembangan bermain itu sendiri. Dalam perkembangan keilmuan, perkembangan tentang bermain ini telah dikembangkan dan diperdebatkan oleh beberapa ahli. Argumentasinya, seorang anak yang belum mampu bermain suatu mainan ketika perkembanga dirinya belum siap (mature) untuk memakainya. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana mengenali perkembangan bermain? Perkembangan bermain dapat dikenali dengan melihat tahapan usia anak atau dengan kata lain melalui psikologi perkembanga anak. Dalam perspektif perkembangan, tahapan perkembangan tertentu mengandung tugas dan kemampuan tertentu, tidak terkecuali bermain.

Menurut Jean Piaget Adapun tahapan kegiatan bermain adalah sebagai berikut:

•         Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun)

•         Permainan Simbolik (± 2-7 tahun)

•         Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun)

•         Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas)

Tinjauan Menurut Para Ahli

1)      Ragam Kegiatan Bermain Menurut Parten

ü  UNOCCUPIED PLAY

ü  SOLITARY PLAY

ü  ONLOOKER PLAY

ü  PARALLEL PLAY

ü  ASSOSIATIVE PLAY

ü  COOPERATIVE PLAY

2)      Tahapan Bermain Menurut Hurlock

ü  Tahapan Penjelajahan (Exploratory Stage)

ü  Tahapan Mainan (Toy Stage)

ü  Tahapan Bermain (Play Stage)

ü  Tahapan Melamun (Daydream Stage)

Dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan dengan spontan, dan perasaan gembira tidak memiliki tujuan ekstrinsik, melibatkan peran aktif anak, memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas) dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak baik kognitif, afektif, maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.

RESUME MATERI KELOMPOK 15

BERBAGAI ALAT PERMAINAN EDUKATIF & ELEKTRONIK

ALAT PERMAINAN

Alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya, sedangkan alat permainan edukatif adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (Tedjasaputra, 2001).

MANFAAT

Penggunaan alat permainan edukatif yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak dapat membantu guru dalam mengembangkan seluruh kemampuan dasar anak di usia dini.

TUJUAN

Adapun tujuan dari penggunaan beberapa APE adalah sebagai sarana dalam membantu guru mengembangkan kompetensi anak didik. Akan tetapi, dalam penggunaannya terkadang masih diperhadapkan pada ketidakseimbangan antara jumlah ketersediaan alat permainan khususnya dalam bentuk APE dengan jumlah anak didik yang ada, sehingga diperlukan kemampuan guru yang lebih untuk menyesuaikan antara keterbatasan alat permainan dengan kegiatan yang akan dilakukan.

CIRI-CIRI

ü  Ditujukan untuk anak usia PAUD atau TK

ü  untuk pengembangan aspek-aspek perkembangan anak PAUD atau TK

ü  untuk bermacam tujuan aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna.

ü  Aman bagi anak

ü  untuk mendorong aktivitas dan kreativitas

ü  Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan

ü  Mengandung nilai pendidikan

 

RESUME MATERI KELOMPOK 16

KEGIATAN BERMAIN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Kegiatan Bermain Pada Anak Berkebutuhan Khusus

  1. Definisi Terapi Bermain
    Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat.
  2. Sasaran Terapi Bermain

a.      Anak gangguan mental dengan penyerta gangguan psikis, sosial emosi dan komunikasi, sasaran pada mental, psikologi, sosial emosional dan komunikasinya.

b.      Anak berkesulitan belajar dengan gangguan penyerta psikologis, sosial emosional, gerak kurang koordinasi, tremor, kelayuhan atau kaku.

c.        Anak gangguan perilaku atau emosi

d.       Anak gangguan bahasa penyertanya psikis, sosial emosional dan ada kalanya terbelakang mental.

e.       Anak gangguan pendengaran penyertanya berbahasa atau bicara, psikis, sosial emosional, dan terkadang mental.

f.       Anak gangguan penglihatan penyerta psikis dan sosial emosional.

g.      Anak gangguan fisik dan kesehatan penyertanya psikis, sosial emosional.

h.      Anak cacat ganda penyerta majemuk seperti sensorik, psikis, sosial emosional, komunikasi dan kadang penyimpangan perilaku.

i.        Anak dengan kecerdasan luar biasa atau berbakat, efeknya psikologis dan sosial emosional.

3.      Materi Terapi Bermain

ü Permainan dengan berbagai alat atau benda

ü Permainan dengan berbagai bentuk gerakan

ü Permainan dengan berbagai macam ketepatan arah atau sasaran

ü Permainan dengan memerlukan keberanian

ü Aktifitas kesenian

4.      Prinsip-Prinsip Pokok  Saat  Pelaksanaan Terapi Bermain

- Prinsip Pengembangan :


    a)  Fungsi fisik
    b)  Fungsi intelektual
    c)  Fungsi emosi
    d)  Fungsi sosialisasi


- Prinsip Rekreatif, yaitu perolehan kesenangan dan kegembiraan
- Prinsip Aktifitas, yaitu munculnya self activity sesuai dengan   keinginan dan kesenangannya.
-  Prinsip Penyembuhan , prinsip ini dapat memperbaiki kelainan atau kekurangan yang dialami oleh anak.

5.      Jenis Mainan Anak Berkebutuhan Khusus

1. Sindroma Down
Boneka empuk dan lembut, karena kebutuhan untuk mendapatkan pelukan atau kehangatan sangat tinggi bagi penyandang sindroma down.
2. Cerebral Palsya    
Mainan dengan remote control, yang bisa dioperasikan dengan satu tangan, seperti mobil-mobilan dengan remote control.
3. Spektrum Autismea
Kartu bergambar, karena anak penyandang autisme lebih mudah belajar secara visual.

Kegiatan Bermain Pada Anak yang Mengalami Terminal Illnes/Dirawat di RS

  1. Pengertian
    Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling efektif untuk mengatasi stres anak. Karena hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan dalam anak, dan sering disertai stres berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stres.
  2. Fungsi Bermain di Rumah Sakit

Beberapa manfaat bermain di rumah sakit adalah memberikan pengalihan dan menyebabkan relaksasi. Hampir semua bentuk bermain dapat digunakan untuk pengalihan dan relaksasi, tetapi aktivitas tersebut harus dipilih berdasarkan usia, minat, dan keterbatasan anak. Anak-anak tidak memerlukan petunjuk khusus, tetapi bahan mentah untuk digunakan, dan persetujuan serta pengawasan.

3.      Prinsip Bermain Pada Anak di Rumah Sakit

a)  Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang dijalankan anak.
b)  Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat, dan sederhana, dengan memilih jenis permainan yang tidak melelahkan bagi anak.
c)  Permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan.
d)  Dilakukan pada kelompok umur yang sama.
e)  Melibatkan orang tua.

4.      Keuntungan Bermain Pada Anak di Rumah Sakit

a)  Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dengan perawat.
b)  Perawatan anak di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri.
c)  Permainan anak di rumah sakit akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih, tegang, dan nyeri.
d)  Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif.
e)  Permainan yang memberi kesempatan pada beberapa anak untuk berkompetisi secara sehat, dapat menurunkan ketegangan pada anak dan keluarganya.

5.      Contoh Permainan

Bermain di Rumah Sakit Berdasarkan Usia
           
1)  Usia Infant
            2)  Usia Toodler
           
3)  Usia Sekolah

Bermain di Rumah Sakit Berdasarkan Tujuan


1)      Meningkatkan masukan cairan

2)      Latihan nafas dalam

3)      Latihan otot, Rentang gerak, dan Ekstremitas

4)      Bermain untuk injeksi

5)      Bermain untuk ambulasi

6)      Bermain bersenang-senang


 

RESUME MATERI KELOMPOK 17

FAKTOR – FAKTOR YANG BERPERAN DALAM

KEGIATAN BERMAIN ANAK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERMAIN

a.      Kesehatan
Semakin sehat anak semakin banyak energy untuk bermain aktif, seperti permainan dan olah raga. Anak yang kekurangan tenaga lebih menyukai hiburan.

b.      Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik. Apa saja yang akan dilakukan dan waktu bermainnya berapa lama. pada perkembangan motor mereka. Pengendalian motoric memungkinkan anak terlibat dalam permainan aktif.

c.       Intelegensi
usia, anak yang pandai lebih aktif ketimbang yang kurang pandai, dan permainan mereka lebih menunjukkan kecerdikan.

d.      Jenis kelamin
Anak laki-laki bermain lebih kasar ketimbang anak perempuan dan lebih menyukai permainan dan olah raga dari pada berbagai jenis permainan lain.

e.       Lingkungan. Anak yang dari lingkungan yang buru kurang bermain ketimbang anak lainnya. Karena kesehatan yang buruk, kurang waktu, peralatan, dan ruang.

f.       Status Sosio ekonomi
  Anak yang dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi lebih menyukai kegiatan yang mahal, seperti lomba atletik, bermain sepatu roda, sedangkan mereka dari kalangan bawah terlihat dalam kegiatan yang tidak mahal seperti bermain bola dan berenang.

g.      Jumlah Waktu Bebas
Jumlah waktu bermain terutama bergantung pada status ekonomi keluarga. Apabila tugas rumah tangga atau pekerjaan menghabiskan waktu luang mereka, anak terlalu lelah untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga yang besar.

h.      Peralatan Bermain
Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainanva Misalnya, dominasi boneka dan binatang buatan mendukung pura-pura, banyaknya balok, kayu, cat air, dan lilin mendukung permainan yang sifatnya konstruktif (Hurlock, 1998.hal:323). Jadi menurut teori dari Hurlock (1998) terdapat delapan faktor yang mempengaruhi bermain anak. delapan faktor tersebut ialah kesehatan, perkembangan motorik, intelegensi, jenis kelamin, lingkungan, status sosioekonomi, jumlah wktu bebas, dan peralatan bermain.

 

Upaya Orangtua dalam Memfasilitasi Kegiatan Bermain di Rumah

Terdapat persamaan kecenderungan upaya memfasilitasi antara keluarga pada orangtua yang bekerja dan tidak bekerja pada status ekonomi menengah. Upaya memfasilitasi untuk keluarga tersebut berada pada kategori cukup,  hal ini dilihat dari sarana dan prasarana yang dimiliki, kemudian dilihat dari karakteristik orangtua yang permissiveness (pembolehan) dalam hal ini orangtua lebih memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih mainannya sendiri.

Bentuk Keterlibatan Orangtua Dalam Kegiatan Bermain

Terdapat  perbedaan  antara  orangtua  yang bekerja  dan  orangtua  yang tidak bekerja dilihat dari status pendidikan orangtua. Dalam hal merancang kegiatan bermain  bersama  bagi  orangtua  yang  berlatar  belakang  pendidikan  lebih  dari SMA memiliki pola pemikiran yang cukup baik melalui berbagai kegiatan sehari - hari, seperti makan bersama, mendongeng sebelum tidur, dan sebagainya. Bagi orangtua  yang berlatar  belakang pendidikan kurang dari SMA memiliki sikap yang  kurang  dalam  menciptakan  dan  mengupayakan  komunikasi  yang  baik dengan   anak.

Keterlibatan Orang Lain dalam Kegiatan Bermain

Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa keluarga kecil yang hanya terdiri  dari  orangtua  dan  anak,  keterlibatan  orang  lain  dalam  bermain  sangat minim dan  aktivitas kegiatan bermain hanya dilakukan oleh orangtua saja. Ba gi keluarga yang tidak hanya terdiri dari ayah, ibu melainkan terdapat anggota keluarga lainnya seperti  Paman, bibi, kakak, adik, dan kakek – nenek keterlibatan oranglain  dalam  kegiatan  bermain  cukup  bagus  karena  akan  menimbulkan kegiatan bermain yang baik, semakin banyak yang terlibat akan semakin baik dalam menumbuhkan perkembangan anak.

 

 

RESUME MATERI KELOMPOK 18

HUMOR ANAK

Humor merupakan kemampuan mental dalam menemukan, mengekspresikan, atau mengapresiasikan seseuatu yang lucu atau sesuatu yang benar-benar tidak lazim. Humor berasal dari kata umor yaitu You-moors yang berarti cairan mengalir, merupakan sifat dari sesuatu atau suatu situasi yang kompleks yang menimbulkan keinginan untuk tertawa. Konsep ‘rasa humor’ atau sense of humor adalah sebuah konsep yang multifaset, universal dan memiliki banyak definisi.

Humor dapat dilihat dari beberapa cara (Taber Dkk,  2007)

a.      Stimulus. Tayangan humor

b.      Respon. Tersenyum

c.       Proses kognitif. Pemahaman terhadap humor

d.      Karakter kepribadian. Emosi positif hasil dari humor

e.       Intervensi terapeutik. Terapi humor

Tipe humor

·         Parodi

Tiruan-tiruan yang bertujuan hanya sebagai hiburan belaka hingga yang bersifat menyindir

·         Permainan kata

Fonologi, Grafologi, Morfologi, Lexis, Sintaks

·         Melanggar hal yang dianggap tabu

Tipe humor yang terlepas dari hal-hal yang dianggap suci ataupun dilarang

·         Observational

Menggunakan hal sepele, biasanya dialami semua orang

Teori Humor yang Sangat Berpengaruh

o   teori ketidaksesuaian

Teori ini fokus pada elemen keterkejutan (surprise)

o   teori kekuasaan

Bentuk penghinaan terhadap orang lain untuk menunjukkan status dan kekuasaan mereka

o   teori pelepasan perasaan batin

Rasa ingin melepaskan ancaman dalam hidup, seperti ingin mengurangi rasa takut akan kematian

Humor pada Bayi dan Balita

Padatnya pelajaran di sekolah, persaingan dengan teman bermain serta upaya memenuhi harapan orang tua bisa menjadi masalah tersendiri buat anak. Pada usia sekolah permasalahan emosi berupa stress, cemas, dan tertekan sering muncul. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah emosi diatas adalah melalui pengembangan sense of humor.

@  Usia 2-3 tahun: tahap bermain

@  Usia 4-6 tahun: tahao yang diikuti olok-olok

@  Usia 7 tahun: tahap bercanda yang benar

Tahapan Pengembangan Humor Anak

*      Tahap 0: tertawa tanpa humor

*      Tahap 1: tertawa dengan figur tambahan

*      Tahap2: memperlakukan suatu objek secara berbeda

*      Tahp 3: ada kesalahan dalam penamaan obyek atau perilaku

*      Tahap 4: bermain dengan kata-kata

*      Tahap 5: teka-teki lelucon

Manfaat Humor pada Bayi dan Balita

a.      Kesehatan fisik

Humor berguna untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien-pasien yang mengidap penyakit mematikan

b.      Kesejahteraan psikologis

Humor memunculkan emosi positif yang menyebabkan seseorang cenderung merasa ceria dan penuh energi. Humor bisa menurunkan mood negatif, mempengaruhi cara memandang hidup menjadi lebih penuh harapan

c.       Hubungan sosial

Orang yang banyak berhumor dalam pergaulan dianggap sebagai teman menyenangkan dan menjadikan mereka lebih banyak terlibat dalam pergaulan, stimulus sosial yang menyenangkan dan dapat mengembangkan hubungan dengan teman

 

Humor dalam Perspektif Islam


§  Tertawa sedekah

§  Memberi kesan berseri dan optimis

§  Penawar rohani

§  Tanda kemurahan hati

§  Menunjukkan kebahagiaan


Kaidah Fiqih tentang Humor

§  Tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan untuk gurauan.

§  Tidak berbohong dan mengada-ada sebagai alat untuk menjadikan orang lain tertawa

§  Tidak mengandung penghinaan, meremehkan dan merendahkan orang lain, kecuali yang bersangkutan mengizinkannya

§  Tidak bergurau dalam urusan yang serius dan tertawa dalam urusan yang sedih.

§  Tidak menimbulkan kesedihan dan ketakutan terhadap orang muslim

§  Tidak berlebihan dan keterlaluan