Minggu, 07 Juni 2020

PROBABILITAS ANSIETAS MASYARAKAT MENGHADAPI DRAMA CORONA

Oleh : Himatul Ali Yatusalamah | 1807016142

       Kasus positif virus Corona di wilayah Indonesia kian hari terus bertambah. Data terbaru yang disampaikan pemerintah Minggu (22/3) mencapai 514 orang, kemudian data tersebut bertambah menjadi 579 orang pada Senin (23/3).  Korban yang meninggal pun meningkat menjadi 49 orang dengan jumlah sembuh mencapai 30 pasien. Hal tersebut tak menutup kemungkinan menciptakan kepanikan masyarakat. Alih-alih mencari hiburan dengan bermain social media di rumah aja, justru masyarakat dibuat semakin cemas dengan pemberitaan media seperti baru-baru ini kabar duka dari  Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  melaporkan enam dokter gugur melawan pandemi akibat virus corona atau COVID-19 itu sendiri. Gugurnya para tenaga medis yang menjadi garda terdepan Indonesia melawan virus corona atau COVID-19 banyak tersiar di media social (sosmed) seperti dr Djoko Judodjoko dan dr Hadio Ali yang mengundang perhatian masyarakat pengguna sosmed. Hal tersebut tentu mengundang luka dan rasa simpati para masyarakat juga kekhawatiran akan pandemic tersebut yang menggugurkan mereka member arti bahwa kasus pandemic ini sangatlah serius.
            Akibat dari pandemic ini masyarakat kehilangan sebagian entitas pekerjaan mereka. Banyak istilah-istilah yang digaungkan di internet seperti work from home (WFH), social distancing (jaga jarak), di rumah aja, dan lain sebagainya. Namun tidak semua profesi bisa menerapkan anjuran tersebut. Seorang pedagang asongan takkan bisa meninggalkan jalanan untuk menjajakan dagangannya, seorang petani takkan mampu membajak sawah mereka tanpa turun langsung ke sawah, seorang driver takkan mungkin menjauhi kerumunan untuk mendapatkan menumpangnya. Selain pekerja, yang sangat merasakan dampak pandemic ini adalah para pelajar di Indonesia. Alih-alih meliburkan sekolah, pemerintah meniadakan kegiatan belajar mengajar yang bersifat tatap muka dan menggantinya dengan via daring atau secara online. Para tenaga didik dihimbau untuk menggunakan kemajuan IPTEK saat ini dalam proses belajar mengajar, seperti yang umum digunakan melalui grup whatsapp, google classroom, aplikasi zoom, dan e-learning lainnya. 
            Banyak dari mereka para pelajar yang merasakan keribetan sekolah online ini, seperti yang pernah  diposting oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahwa beliau mendapat beberapa pesan dari pelajar yang berisi keluhan atas program belajar online tersebut, rata-rata pesan yang dikirimkan mereka berisikan keluhan akan banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Mahasiswa pun tak kalah ribetnya menghadapi tugas-tugas yang diberikan oleh dosen mereka, kegiatan presentasi yang biasanya dilakukan di kelas dengan menggunakan power point saja kini mereka dituntut untuk menyiapkan video, gambar, voicenote, dan pendukung lainnya agar mahasiswa yang lain dapat memahami materi yang disampaikan. Para mahasiswa pun dipusingkan pula dengan tugas tambahan yang diberikan dosen mereka seolah para dosen tidak rela jika mahasiswanya santai-santai di rumah. Keribetan yang lainnya dirasakan ketika masa online class mahasiswa dituntut tetap aktif memantau grup chat mereka dan jika ketahuan tidak menyimak mereka dinyatakan gugur absensi. Padahal bisa saja dari mereka pergi ke kamar mandi, sinyal provider mereka mengalami gangguan, atau bisa saja smartphone mereka lowbat karena tidak dipungkiri perkuliahan online selain menguras tenaga fikiran, pun menguras tenaga batrei handphone. Ditambah lagi ketika dosen memberikan materi tidak pada jadwal perkuliahannya  mengakibatkan mahasiswa harus siap siaga memantau gadget mereka. Sehingga masyarakat saat ini benar-benar mengalami tak bisa hidup tanpa gadget digenggamannya. Tidak sedikit mahasiswa di masa perkuliahan daring ini lebih memilih pulang ke rumah masing-masing. Bukan karena tidak patuh akan himbauan pemerintah untuk tidak kemana-mana, mereka lebih aman dan lebih nyaman ketika berkumpul bersama keluarganya terutama pada orang tua. Orang tua pun sama, perasaan orang tua akan lebih tenang jika dalam keadaan bahaya seperti demikian anak mereka dalam pantauan langsung dari mata mereka.
            Selain hal tersebut, mahasiswa yang sebagian besar belum berpenghasilan sendiri akan lebih hemat jikalau mereka pulang ke rumah masing-masing karena tentu mereka tidak akan memikirkan kebutuhan pangan untuk menyambung hidup mereka selama jauh dari orang tua, orang tua pun menjadi sedikit terkurangi beban pengeluaran mereka untuk mentransfer anaknya. Namun hal tersebut belum menutup kekhawatiran mahasiswa yang lainnya, seperti ketika mereka lebih memilih kembali ke kampung halaman dibanding menetap di kos semisal sampai waktu yang belum ditentukan oleh pemerintah untuk kembali normal sepeti biasanya melihat jumlah kasus yang kian hari kian bertambah, tidak menutup kemungkinan akan semakin diperpanjang pula pembelajaran daring tersebut. Mahasiswa yang memilih pulang ke rumah tidak menjadikan mereka bebas dengan tagihan kos mereka, meski tidak dihuni entitas mereka masih dihitung sebagai penghuni kos-kosan tersebut, sehingga mereka merasa rugi financial dalam kondisi seperti sekarang.
            Memang pandemi covid-19 dampak yang dirasakan tak hanya pada pasien pengidap saja, melainkan, selain dari pasien seperti kasus—kasus yang diterangkan di atas bahwa pandemic ini menyerang masyarakat secara psikologis berupa timbulnya perasaan tertekan, stres, dan cemas di kalangan masyarakat luas. Cemas yang berlebih akan berakibat tidak baik bagi kesehatan, akibatnya seorang akan tumbang juga meski tidak terserang pandemi corona. Seperti yang dilontarkan dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rini Setyowati, Kamis (19/3/2020). Dia menanggapi perkembangan penyebaran Covid 19 yang berasal dari Wuhan, Cina, yang cenderung meluas akhir-akhir ini. "Di masyarakat luas dapat timbul perasaan tertekan, stres dan cemas dengan pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah penderita Covid-19. Pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat, dapat memicu stres yang mempengaruhi hormon stres. Sehingga itu menyebabkan sistem imun menurun dan rentan tertular Covid-19," katanya. Dosen yang juga tenaga medis di Rumah Sakit UNS tersebut, mengingatkan, virus Corona atau Covid-19 yang terus merebak termasuk di Indonesia, tidak hanya menimbulkan gejala penyakit fisik saja. Tetapi, juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya, baik pada penderita maupun terhadap masyarakat luas.
 Dalam dunia psikologi kecemasan dipandang hal yang serius. Kecemasan  (anxiety)  adalah  keadaan  suasana  perasaan  (mood) yang ditandai dengan afek negative berupa gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan  fisik dan kekhawatiran tentang masa  depan dimana seseorang mengantisipasi  kemungkinan-kemugkinan  datangnya  bahaya  atau kemalangan  dimasa  yang  akan  datang  dengan  perasaan  khawatir. Kecemasan  mungkin  melibatkan  perasaan,  perilaku,  dan  respon-respon Fisiologis. Pada  manusia,  kecemasan  bisa  jadi  berupa  perasaan  gelisah  yang bersifat subjektif, sejumlah perikalu (tampak khawatir, gelisah, dan resah) atau respon fisiologis yang bersumber di otak dan tercermin dalam bentuk denyut  jantung  yang  meningkat  dan  otot  yang  menegang. Pola  Respon  Cemas  meliputi  kecemasan  ringan,  kecemasan sedang,  kecemasan  berat,  dan  cemas  pada  tingkatan  panik.  Sedangkanpenyebab  kecemasan  melalui  banyak  aspek,  yaitu  faktor  biologis, psikologis,  dan  sosial.  Gejala  kecemasan  meliputi  tiga  hal  yaitu  fisik, emosi, dan psikologis. Kecemasan juga ada baiknya  untuk  kita,  setidaknya  bila  jumlahnya  sedang-sedang  saja, namun akan menjadi tidak baik ketika cemas tersebut terus-menerus dipelihara hingga menjadi berlebih. Hal  baik  pun  bila  berlebihan dapat merugikan, dan ada beberapa sensasi yang lebih merugikan daripada sensasi  kecemasan  berat  yang  tidak  terkontrol yang  membuat  situasinya semakin  buruk  adalah  bahwa  kecemasan  berat  biasanya  tidak  mau menyingkir. Artinya, meskipun kita tahu bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan, tetapi kita tetap merasa gelisah.
Bagi seorang mahasiswa menghadapi banyaknya tugas-tugas saja sudah menjadikan mereka tertekan, ditambah kebutuhankebutuhan sekunder mereka yang harus terpenuhi, dan lagi tekanan tersebut semakin berat ketika merasakan kekhawatiran pandemic corona seperti sekarang ini. Mahasiswa yang tingkat kecemasannya tinggi akan mengalami ketidak nyamanan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Mereka akan diliputi perasaan tidak tenang dari masalah-masalah yang sedang dihadapi, dan jika tekanan tersebut memuncak, kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang dikhawatirkan akan terjadi. Dalam hal ini, masyarakat diharap tenang dan meminimalisir tekanan dari kondisi masing-masing yang tengah dihadapi agar nantinya tidak berakibat buruk kepada diri masing-masing. Disamping pemerintah yang mengupayakan semaksimal mungkin penindakan kasus pandemic ini, masyarakat tidak terkecuali harus ikut serta membantu upaya tersebut melalui menaati himbauan yang disebar, mampu memilah dan memilih informasi yang relevan dengan keadaan, dan bagi sebagian masyarakat lainnya diharapkan untuk sebaiknya jangan mengambil keuntungan dari kondisi saat ini seperti yang sedang marak terjadi penimbunan barang-barang yang saat sedang sangat-sangat dibutuhkan lalu menjualnya dengan harga berkali-kali lipat mahalnya. Masyarakat yang pintar memainkan sosmed diharapkan pula untuk tidak memicu kegaduhan dengan menyebar informasi-informasi yang tidak benar sehingga mengurangi kecemasan masyarakat lainnya. Sehingga pemerintah dan masyarakat mampu melalui kondisi pandemic saat ini agar virus tersebut segera hilang dari Negara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar