Kasus positif virus Corona di wilayah Indonesia
kian hari terus bertambah. Data terbaru yang disampaikan pemerintah Minggu
(22/3) mencapai 514 orang, kemudian data tersebut bertambah menjadi 579 orang
pada Senin (23/3). Korban yang meninggal
pun meningkat menjadi 49 orang dengan jumlah sembuh mencapai 30 pasien. Hal
tersebut tak menutup kemungkinan menciptakan kepanikan masyarakat. Alih-alih
mencari hiburan dengan bermain social media di rumah aja, justru
masyarakat dibuat semakin cemas dengan pemberitaan media seperti baru-baru ini
kabar duka dari Ikatan
Dokter Indonesia (IDI) melaporkan enam dokter gugur melawan pandemi akibat virus corona
atau COVID-19 itu sendiri. Gugurnya para tenaga medis yang menjadi garda terdepan Indonesia melawan virus corona
atau COVID-19 banyak tersiar di media social (sosmed) seperti dr Djoko
Judodjoko dan dr Hadio Ali yang mengundang perhatian masyarakat pengguna sosmed.
Hal tersebut tentu mengundang luka dan rasa simpati para masyarakat juga
kekhawatiran akan pandemic tersebut yang menggugurkan mereka member arti bahwa
kasus pandemic ini sangatlah serius.
Akibat
dari pandemic ini masyarakat kehilangan sebagian entitas pekerjaan mereka.
Banyak istilah-istilah yang digaungkan di internet seperti work from home
(WFH), social distancing (jaga jarak), di rumah aja, dan lain sebagainya.
Namun tidak semua profesi bisa menerapkan anjuran tersebut. Seorang pedagang
asongan takkan bisa meninggalkan jalanan untuk menjajakan dagangannya, seorang
petani takkan mampu membajak sawah mereka tanpa turun langsung ke sawah,
seorang driver takkan mungkin menjauhi kerumunan untuk mendapatkan
menumpangnya. Selain pekerja, yang sangat merasakan dampak pandemic ini adalah
para pelajar di Indonesia. Alih-alih meliburkan sekolah, pemerintah meniadakan
kegiatan belajar mengajar yang bersifat tatap muka dan menggantinya dengan
via daring atau secara online. Para tenaga didik dihimbau untuk menggunakan
kemajuan IPTEK saat ini dalam proses belajar mengajar, seperti yang umum
digunakan melalui grup whatsapp, google classroom, aplikasi zoom, dan
e-learning lainnya.
Banyak
dari mereka para pelajar yang merasakan keribetan sekolah online ini, seperti
yang pernah diposting oleh Gubernur Jawa
Tengah Ganjar Pranowo bahwa beliau mendapat beberapa pesan dari pelajar yang
berisi keluhan atas program belajar online tersebut, rata-rata pesan yang
dikirimkan mereka berisikan keluhan akan banyaknya tugas-tugas yang diberikan
oleh gurunya. Mahasiswa pun tak kalah ribetnya menghadapi tugas-tugas yang
diberikan oleh dosen mereka, kegiatan presentasi yang biasanya dilakukan di
kelas dengan menggunakan power point saja kini mereka dituntut untuk menyiapkan
video, gambar, voicenote, dan pendukung lainnya agar mahasiswa yang lain
dapat memahami materi yang disampaikan. Para mahasiswa pun dipusingkan pula
dengan tugas tambahan yang diberikan dosen mereka seolah para dosen tidak rela
jika mahasiswanya santai-santai di rumah. Keribetan yang lainnya dirasakan
ketika masa online class mahasiswa dituntut tetap aktif memantau grup
chat mereka dan jika ketahuan tidak menyimak mereka dinyatakan gugur absensi.
Padahal bisa saja dari mereka pergi ke kamar mandi, sinyal provider mereka
mengalami gangguan, atau bisa saja smartphone mereka lowbat karena tidak
dipungkiri perkuliahan online selain menguras tenaga fikiran, pun menguras
tenaga batrei handphone. Ditambah lagi ketika dosen memberikan materi tidak
pada jadwal perkuliahannya mengakibatkan
mahasiswa harus siap siaga memantau gadget mereka. Sehingga masyarakat saat ini
benar-benar mengalami tak bisa hidup tanpa gadget digenggamannya. Tidak sedikit
mahasiswa di masa perkuliahan daring ini lebih memilih pulang ke rumah
masing-masing. Bukan karena tidak patuh akan himbauan pemerintah untuk tidak
kemana-mana, mereka lebih aman dan lebih nyaman ketika berkumpul bersama
keluarganya terutama pada orang tua. Orang tua pun sama, perasaan orang tua
akan lebih tenang jika dalam keadaan bahaya seperti demikian anak mereka dalam
pantauan langsung dari mata mereka.
Selain
hal tersebut, mahasiswa yang sebagian besar belum berpenghasilan sendiri akan
lebih hemat jikalau mereka pulang ke rumah masing-masing karena tentu mereka
tidak akan memikirkan kebutuhan pangan untuk menyambung hidup mereka selama
jauh dari orang tua, orang tua pun menjadi sedikit terkurangi beban pengeluaran
mereka untuk mentransfer anaknya. Namun hal tersebut belum menutup kekhawatiran
mahasiswa yang lainnya, seperti ketika mereka lebih memilih kembali ke kampung
halaman dibanding menetap di kos semisal sampai waktu yang belum ditentukan
oleh pemerintah untuk kembali normal sepeti biasanya melihat jumlah kasus yang
kian hari kian bertambah, tidak menutup kemungkinan akan semakin diperpanjang
pula pembelajaran daring tersebut. Mahasiswa yang memilih pulang ke rumah tidak
menjadikan mereka bebas dengan tagihan kos mereka, meski tidak dihuni entitas
mereka masih dihitung sebagai penghuni kos-kosan tersebut, sehingga mereka
merasa rugi financial dalam kondisi seperti sekarang.
Memang
pandemi covid-19 dampak yang dirasakan tak hanya pada pasien pengidap saja,
melainkan, selain dari pasien seperti kasus—kasus yang diterangkan di atas
bahwa pandemic ini menyerang masyarakat secara psikologis berupa
timbulnya perasaan tertekan, stres, dan cemas di kalangan masyarakat luas. Cemas
yang berlebih akan berakibat tidak baik bagi kesehatan, akibatnya seorang akan
tumbang juga meski tidak terserang pandemi corona. Seperti yang dilontarkan
dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas
Sebelas Maret (UNS) Solo, Rini Setyowati, Kamis (19/3/2020). Dia menanggapi
perkembangan penyebaran Covid 19 yang berasal dari Wuhan, Cina, yang cenderung
meluas akhir-akhir ini. "Di masyarakat luas dapat timbul perasaan
tertekan, stres dan cemas dengan pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah
penderita Covid-19. Pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat, dapat
memicu stres yang mempengaruhi hormon stres. Sehingga itu menyebabkan sistem
imun menurun dan rentan tertular Covid-19," katanya. Dosen yang juga
tenaga medis di Rumah Sakit UNS tersebut, mengingatkan, virus Corona atau
Covid-19 yang terus merebak termasuk di Indonesia, tidak hanya menimbulkan
gejala penyakit fisik saja. Tetapi, juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya,
baik pada penderita maupun terhadap masyarakat luas.
Dalam
dunia psikologi kecemasan dipandang hal yang serius. Kecemasan (anxiety)
adalah keadaan suasana
perasaan (mood) yang ditandai
dengan afek negative berupa gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan-kemugkinan datangnya
bahaya atau kemalangan dimasa
yang akan datang
dengan perasaan khawatir. Kecemasan mungkin
melibatkan perasaan, perilaku,
dan respon-respon Fisiologis.
Pada manusia, kecemasan
bisa jadi berupa
perasaan gelisah yang bersifat subjektif, sejumlah perikalu
(tampak khawatir, gelisah, dan resah) atau respon fisiologis yang bersumber di
otak dan tercermin dalam bentuk denyut
jantung yang meningkat
dan otot yang
menegang. Pola Respon Cemas
meliputi kecemasan ringan,
kecemasan sedang, kecemasan berat,
dan cemas pada
tingkatan panik. Sedangkanpenyebab kecemasan
melalui banyak aspek,
yaitu faktor biologis, psikologis, dan
sosial. Gejala kecemasan
meliputi tiga hal
yaitu fisik, emosi, dan
psikologis. Kecemasan juga ada baiknya
untuk kita, setidaknya
bila jumlahnya sedang-sedang
saja, namun akan menjadi tidak baik ketika cemas tersebut terus-menerus
dipelihara hingga menjadi berlebih. Hal
baik pun bila
berlebihan dapat merugikan, dan ada beberapa sensasi yang lebih
merugikan daripada sensasi
kecemasan berat yang
tidak terkontrol yang membuat
situasinya semakin buruk adalah
bahwa kecemasan berat
biasanya tidak mau menyingkir. Artinya, meskipun kita tahu
bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan, tetapi kita tetap merasa gelisah.
Bagi seorang mahasiswa menghadapi banyaknya
tugas-tugas saja sudah menjadikan mereka tertekan, ditambah kebutuhankebutuhan
sekunder mereka yang harus terpenuhi, dan lagi tekanan tersebut semakin berat
ketika merasakan kekhawatiran pandemic corona seperti sekarang ini. Mahasiswa
yang tingkat kecemasannya tinggi akan mengalami ketidak nyamanan dalam
menjalani kehidupannya sehari-hari. Mereka akan diliputi perasaan tidak tenang
dari masalah-masalah yang sedang dihadapi, dan jika tekanan tersebut memuncak,
kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang dikhawatirkan akan terjadi. Dalam
hal ini, masyarakat diharap tenang dan meminimalisir tekanan dari kondisi
masing-masing yang tengah dihadapi agar nantinya tidak berakibat buruk kepada
diri masing-masing. Disamping pemerintah yang mengupayakan semaksimal mungkin
penindakan kasus pandemic ini, masyarakat tidak terkecuali harus ikut serta
membantu upaya tersebut melalui menaati himbauan yang disebar, mampu memilah
dan memilih informasi yang relevan dengan keadaan, dan bagi sebagian masyarakat
lainnya diharapkan untuk sebaiknya jangan mengambil keuntungan dari kondisi
saat ini seperti yang sedang marak terjadi penimbunan barang-barang yang saat
sedang sangat-sangat dibutuhkan lalu menjualnya dengan harga berkali-kali lipat
mahalnya. Masyarakat yang pintar memainkan sosmed diharapkan pula untuk tidak
memicu kegaduhan dengan menyebar informasi-informasi yang tidak benar sehingga
mengurangi kecemasan masyarakat lainnya. Sehingga pemerintah dan masyarakat
mampu melalui kondisi pandemic saat ini agar virus tersebut segera hilang dari Negara
kita.
